logo-tod

27/FEB/18

La Marupè

Setelah merilis dua mini album: Dialog Ujung Suar (2013) dan Alkisah (2014), Theory of Discoustic (ToD) akan kembali pada Maret 2018 ini untuk melepas album panjang pertama. La Marupè dipilih sebagai judul album: sebuah istilah dalam bahasa Bugis-Makassar yang bermakna suatu sosok atau kondisi tertentu yang diyakini keberadaannya, tapi tak terjangkau oleh pancaindra dan berpengaruh dalam hajat hidup.

Sama seperti di mini album sebelumnya, delapan lagu yang ada di La Marupè tetap mengangkat sejarah lokal, tradisi lisan, atau mitos yang dipercaya di Sulawesi Selatan. Proses pembuatan album ini memakan waktu sekitar dua tahun lebih. Tidak seperti pengerjaan mini album sebelumnya yang dilakukan di studio rekaman, field recording jadi metode pengerjaan album ini pada Januari 2018. Tempat yang dipilih adalah sebuah pabrik semen yang sudah lama tidak beroperasi di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Pabrik semen itu mulai beroperasi pada 1968, yang sebagian besar mesin-mesinnya diangkut dari Ceko, Eropa Timur. Lokasi ini digunakan oleh ToD sebagai tempat rekaman demi menghasilkan gaung yang alami pada setiap lagu. Selain itu, pemanfaatan ruang, instalasi atau gedung raksasa yang tidak terpakai, adalah salah satu alasan dipilihnya pabrik bekas ini.

La Marupè bisa dikatakan sebagai pijakan baru ToD karena diperlebarnya tema lirik dan musik dari yang selama ini dikerjakan. Kita tidak hanya mendengarkan petikan gitar akustik khas Sulawesi Selatan, tapi juga menemukan sampling piano akustik dan formula arpeggiator, bebunyian yang diulang-ulang di lagu “Makrokosmos” dan sampling suling di “Tanah Tua”.

Sementara kekhasan suara gitar ToD memiliki dinamika yang berbeda di setiap lagunya. “Tabe”, misalnya yang menjadi lagu pembuka album ini terdengar nyaring dalam lantunan bahasa Makassar, sedangkan “Lingkar Negeri Atas” bisa menjadi sangat pop di antara semua lagu namun punya unsur vokal yang terus mengayuh dan rentetan suara bongos yang ditabuh hingga akhir lagu.

Jika di mini album Alkisah kita mendapati lagu “Satu Haluan” yang berkisah soal pengarungan laut kapal Phinisi dengan keberanian dan keriangan para awaknya, maka di La Marupè para pelaut itu berbeda. Mereka dihadirkan dalam suasana mencekam namun tetap berani pada lagu “Arafura” yang dicuplik dari pertempuran Laut Aru di timur Indonesia pada 1962.

Sebagai perbandingan, ada 2 lagu saling berkaitan yang membawa album ini bergerak ke masa lebih lampau, yaitu mitos yang diambil dari era abad 13 masyarakat Sulawesi Selatan. Kedua lagu tersebut adalah “To Manurung” dan “Janci’” yang membincangkan kontrak sosial dan politik antara To Manurung dan penduduk setempat.

Pembahasan soal tradisi juga menjadi perhatian khusus di album ini, di antaranya: tradisi pindah dan menghuni rumah baru orang Bugis-Makassar, tradisi kematian suku Toraja, dan tradisi orang Kajang di Bulukumba yang menjaga kawasan hutan adat sekaligus kesederhanaan dalam kehidupan mereka.

“Badik” adalah lagu penutup sekaligus single untuk album La Marupè. Secara teknis, lagu ini merupakan ensembel bunyi-bunyi tambahan yang dimainkan di album ini. Lirik dari lagu ini bercerita soal sitobo’ lalang lipa’ atau duel satu lawan satu memakai badik di dalam sarung, sebuah pilihan terakhir dalam penyelesaian konflik.